Jumat, 03 September 2010
Aku dan Sahabat
Setiap pagi,saat aku menunggu angkot untuk berangakat sekolah,aku selalu melihat seorang perempuan berjilbab duduk di dekat pintu bis berwana biru muda yang melewati tempat aku menunggu angkot.Dia adalah sahabatku.Banyak hal yang telah kami lalui bersama. Kami bersahabat dari awal masuk SMP.Walaupun bias dibilang itu belum lama,tetapi kami sudah saling mengenal satu sama lain.Dulu waktu duduk di kelas VII kami satu kelas,bahkan satu bangku.Kami dulu sangat dekat,bahkan kemana-mana selalu bersama. Tetapi,sejak akhir semester 2,kami mulai jauh.Aku kecewa padanya,kami pun berpisah.Hanya karena aku cemburu padanya,dia marah dan itu membuat kami berpisah.dulu aku pernah menangis karena hal itu,tetapi dia malah bilang aku cengeng.Memang aku cengeng,karena hatiku memang lembek dan mudah tersinggung. Sejak itu,kami tak pernah berkomunikasi,bahkan kami tak lagi duduk satu bangku.Bahkan saking kesalnya di,dia pernah mengatakan bahwa dia tak mau satu kelas lagi denganku.Aku kadang berfikir,sebenarnya apa yang membuat kami menjadi seperti ini.Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan kami untuk bersama.Tapi aku juga tak tahu apa yang dia pikirkan,mungkin dia hanya sedang mengungkapkan kekesalannya. Sejak kami berpisah,setiap apa yang dia katakan padaku rasa seperti menusukku,aku juga banyak salah padanya.Kami jadi saling menyakiti. Beberapa minggu setelah liburan kenaikan kelas,hubungan kami membaik,tapi apa yang dia harapkan benar terjadi,kami tak lagi satu kelas.Sejak itu,kami mulai berkomunikasi,walaupun tak sedekat dulu.Kami juga sesekali curhat. Lambat laun aku tak terlalu mengharapkan dia seperti dulu lagi.Aku juga sedang mendekati salah seorang adik kelasku.Aku suka dengan karakternya,siapa tahu dia bisa menggantikan sahabatku yang sudah pergi. Suatu hari,dia memintaku untuk kembali seperti dulu,dia minta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya.Aku bingung harus jawab apa.Aku terlanjur sakit hati,tapi aku masih saying padanya,aku juga banyak salah padanya,tapi aku juga hamper menemukan penggantinya.Ah..Aku bingung,akhirnya aku jawab aku mau,aku juga minta maaf kembali atas kesalahanku padanya. Akhirnya,kami bersatu kembali.Hari-hari yang dulu kami lewati bersama,kini dapat kami ulang.Sungguh indah sebuah persahabatan.Walaupun kami sudah tidak satu kelas,namun kelas kami berdekatan,di pelajaran kosong,kami menyempatkan diri untuk bertemu.Baru satu tahun kami mengecap kembali manisnya persahabatan,kami harus berpisah kembali.Dia harus pergi.Dia mengikuti keluarganya pindah ke Klaten.Kini,setiap bis berwarna biru muda itu lewat,aku tak pernah lagi melihat perempuan berjilbab itu duduk di dekat pintu bis tersebut.Betapa sedihnya kami harus berpisah,padahal belum lama kami mengenal apa itu arti sahabat. “Terima kasih,karena aku bisa belajar arti persahabatan denganmu”.Tapi,kami masih sering curhat lewat sms,telefon,ataupun FB.Inilah takdir persahabatan kami.Dari sini kami belajar,bahwa persahabatan tak mengenal jarak.
Sahabat....
"Ify.. Benar nih gak mau aku antar pulang?" tanyaku cemas kepada sahabat terbaikku itu"
"Gak apa2 Yo.. Hari ini aku ada urusan sama Ayah. Kami mo pergi ke suatu tempat." jawab Ify lembut seraya tersenyum.
"Kemana fy?" tanya Rio penasaran.
"Rumah Sakit.."
*****
"Apa?! Kamu pasti bohong kan fy! Kamu gak pernah bilang-bilang tentang penyakitmu!" aku mendorong meja didepan saking kagetnya dg statement Ify.
"Maaf. A.ku.. aku cuma nggak mau kamu sedih.. ka.. kalau.. kalau tiba saatnya aku pergi…"
"NGGAK!"
"Tapi…"
"….."
Aku sedang terlarut dalam pikiranku saat butiran-butiran air mata itu menemani perjalanan pulangku dari Rumah Sakit ke Rumah. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli walaupun kini aku sudah mulai kedinginan.
Yang kupikirkan hanyalah Ia. Hanya Ify.
"Umurnya tidak akan lama lagi." dokter yang merawat Ify mengatakan hal itu padaku. Aku benar-benar tidak percaya. Atau mungkin tak ingin percaya. ify, sahabatku yang ku kenal sejak TK itu akan tiada lagi di dunia ini.
Aku sedih melihat nasib sahabatku itu yang dari dulu selalu saja mempunyai masalah. Ibu dan adiknya sudah tiada. Hanya Ayah-nya-lah yang merawat Ify sekarang. Tapi, tidak lama lagi Ayah-nya akan pensiunan. Padahal penyakit Ify itu sudah sangat kronis dan memerlukan biaya yang sangat besar.
Tuhan, mengapa nasib makhluk-Mu selalu.. selau saja seperti sinetron, yang selalu ada halangannya.
"Ify….!" kataku langsung memeluknya. Setiap hari aku menjenguk Ify. Sudah tiga minggu lamanya Ify berbaring di Rumah Sakit. Syukurlah keadaannya mulai membaik
"Ah., Rio… terima kasih selalu menjengukku…" ucap Ify dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Ia terlihat cantik.
"Ya udah deh, kamu mau kuajak ke suatu tempat nggak?"
"Kemana?"
"Ada deh! Mau nggak?"
"Iih.. kemana sih..?"
"Nanti juga kamu tahu! Yang pasti kamu akan suka tempatnya. Aku janji! Mau nggak?"
"Iya deh, tapi ijin dulu ama Ayahku, sama Suster, sama Dokter."
"Iya… gampang. Aku udah ijin. Tinggal kamu doang. Mau atau nggak?"
"Ng.. aku mau! Kalau sama Rio aku percaya! Pasti tempatnya bagus!
"Baiklah! Tanggal 6 Desember ya! Jam 19.00!"
"Malam ulang tahunku?"
"Yap!"
"Aku kan nggak boleh keluar malam-malam, apalagi nanti turun hujan.. "
"Ify.. jangan plin-plan begitu dong… tadi katanya mau.. dokter aja bolehin… mau ya..? please.." pintaku memohon padanya.
"Iya." akhirnya Ify meng'iya'kan. Tapi keliatannya Ia masih ragu.
"Jangan ragu-ragu… ada aku kok yang akan ngelindungin kamu.."
"Sungguh?"
"Ya!" aku meyakinkannya.
"Oke! Aku akan dandan yang cantik buat tanda terima kasihku untuk Rio!" suara Ify terdengar riang.
"Yeee.. aku juga bisa dandan yang ganteng buat Ify!" kataku tak mau kalah darinya. Kami pun tertawa bersama.
"Hmm.. Rio, kita begini selamanya ya…"
"Maksud kamu?"
"Iya, kita berteman terus untuk selamanya."
"Teman? Jadi kamu hanya menganggapku sebatas teman?"
"Ehh..?"
"Aku kan sahabatmu! Sahabatmu!"
"Ah, iya… Kita bersahabat terus untuk selamanya ya.."
"Tentu!" aku tersenyum padanya. Ify pun juga tersenyum padaku.
Sepulang dari rumah sakit, kali ini aku tidak langsung pulang ke Rumah. Aku ingin membeli sesuatu untuk hadiah ulang tahun Ify.
"Kurasa ini cocok untuknya.." gumamku. Aku sudah mendapatkan hadiah yang cocok untuk sahabatku itu. Aku sgera berjalan pelang menuju ke Rumah.
Aku tahu Ia sakit sejak dulu. Aku tahu jika Ia terlalu kelelahan Ia akan langsung dilarikan ke Rumah Sakit. Tapi baru-baru ini aku baru tahu entah sampai kapan umurnya untuk hidup. Aku memang tidak seperti Ify. Aku sehat. Dan dari kesehatanku itulah aku ingin membahagiakan Ify.
Tuhan, kumohon, kumohon berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya, membahagiakan Ify. Kumohon…
Tanggal 6 Desember pun tiba. Jam 19.45 aku menjemput Ify. Lalu kami pergi ke suatu tempat dengan mobilku.
Kami turun dari mobil. Terlihat bukit kecil dengan anak tangga yang bisa ditanjaki.
"Hmm. Rio. Apa kita sudah sampai?" tanya Ify padaku dengan wajah yang terlihat heran, tapi terlihat lucu.
"Belum, Ify." jawabku pendek. Aku menggandeng tangan Ify. Menuntunnya mendaki bukit kecil ini dengan anak tangga yang ada. Tak mengubriskan Ify yang masih keheranan.
"Kita sampai,Ify." dari puncak bukit ini terlihat pohon cemara besar yang telah dihiasi oleh hiasan pohon cemara. Tempat ini sepi. Sepertinya baru sedikit yang mengetahui tempat ini. Hanya ada kami berdua di tempat ini.
Langit dipenuhi bintang-bintang dan senyuman bulan sabit menghiasinya.
"Wah.. indah baget Rio…" Ify sangat senang. Binar matanya memancarkan rasa kagumnya atas pemandangan indah yang dilihatnya.
Tuhan… kumohon jangan pisahkan kami. Aku masih ingin bersama Ify. Masih ingin melihat senyumnya.
"Hmm.. Rio.." suara Ify yang memanggil namaku itu membuyarkan lamunanku.
"Ya, Ify?" tanyaku.
"Mau berjanji padaku?"
"Janji?" tanyaku lagi. Tak mengerti apa maksudnya.
"Berjanjilah, jangan lupakan aku!"
*****
Aku memandang bintang-bintang yang bertaburan dilangit. Seperti senyuman Ify semalam.
"Sahabatku.." gumamku dalam hati.
Aku tersadar dari lamunanku oleh bunyi lagu D'Bagindas - tak seindah malam kemarin sebagai ringtone handphone ku. Saat kulihat, itu dari Ayahnya Ify. Langsung saja kuangkat.
"Iya, kenapa Om?"
"Ify lagi kritis. Dari kemaren, abis kamu pulang Dia udah nggak sadarkan diri. Om kira Dia tidur. Tapi sampai sekarang Dia nggak sadarkan diri. Kata dokter sekarang Dia lagi kritis. Sebaiknya kamu kesini, Rio." terdengar jelas suara Om Oni yang bergetar, khawatir pada keadaan anaknya.
"Aku segera sampai ke sana Om!" aku langsung menutup telpon, segera berangkat ke Rumah Sakit.
Sesampainya disana, aku langsung berlari ke kamar tempat Ify di rawat. Kulihat Om Oni sedang menangis, dan alat detektor jantung Ify menunjukkan sebuah garis lurus. Aku tidak percaya Ify telah meninggal. Padahal kemarin kami baru saja mengobrol. Dan aku benar-benar tidak menduga itu adalah senyuman terakhirnya. Dan itu adalah kata-kata terakhirnya, 'Berjanjilah, jangan lupakan aku!' Ia mengatakannya dengan senyum termanisnya.
Tidak! Ify belum meninggal! Dia masih sehat!
Tapi berapa kalipun kulihat, Dia… Dia memang sudah meninggal.
"IFYYY…!" teriakku di sela-sela isak tangisku.
Tuhan… kenapa Engkau memisahkan kami?
****
"Koak.. Koak..
Burung - burung elang berkoar-koar diatas kuburan itu. Langit berubah hitam, mendung. Seakan ikut merasakan perihnya hatiku saat itu.
Sekarang aku sudah berada di samping makam Ify. Disekitarku ada teman-teman serta Ayah Ify satu-satunya keluarga Ify yang masih ada. Dan kini hujan mulai turun. Semakin lama semakin lebat. Mungkin Ify-lah yang memintanya sebagai permintaan terakhir. Aku tahu itu, karna aku tahu kalau ify suka hujan. Hujan yang akan mengantarnya ke Surga, kembali pada yang Kuasa.
Orang-orang mulai pergi, dan yang tetap berdiri disini hanyalah aku.
"Ify.. kenapa kau pergi secepat ini? Maafkan aku.. aku nggak bisa ngebahagiain kamu di saat terakhir.. aku datang terlambat di saat detik-detik terakhir hidupmu.. maafakan aku Ify…" aku terduduk di samping makam Ify.
Aku menatap langit, dan berkata dalam hati, 'Ify, aku janji tidak akan melupakanmu. Sampai kapanpun, selamanya, kau akan selalu di hatiku. Kau akan kuingat sebagai orang terbaik yang pernah kutemui, dan orang terhebat yang pernah kutemui, itulah dirimu, Alyssa Saufika Umari…'
"Selamat jalan..."
1 detik
Sekarang tepat jam delapan malam. Aku masih duduk di atas bangku panjang berwarna coklat tua. Hening sekali tempat ini. Hanya ada aku dan sunyinya malam. Sudah empat puluh menit aku menunggu adik kesayanganku yang tak kunjung datang. Satu jam yang lalu aku menerima pesan dari adikku untuk menunggunya di bangku panjang ini, bangku favorit kami. Sejak kami ditinggal pergi selamanya oleh orangtua kami, akulah yang bekerja demi menghidupi kita berdua, terutama demi adikku tersayang. Adikku 10 tahun lebih muda dari aku. Wajahnya yang tampan dan otaknya yang cerdas sering membuatku iri, dia sering memenangkan berbagai perlombaan sains. Aku yang lebih tua, hanya perlu bekerja demi masa depan adikku.
Sekarang sudah 45 menit sejak terakhir kali aku menerima pesan darinya. Aku mulai cemas, ditambah lagi aku sangat lelah karena aku baru saja pulang dari bekerja. Kenapa lama sekali ya ? pikirku. Padahal tempat lesnya tidak jauh dari sini. Huh… lain kali, biar kusuruh dia pulang sendiri.
Tak lama kemudian, aku menerima pesan darinya. Hah..., akhirnya ada kabar juga darinya, sebentar lagi dia ke sini, katanya. Aku langsung menengok ke kiri dan ke kanan mencari batang hidungnya, dan kulihat dia, di seberang jalan sana. Aku sangat lega melihatnya, dan aku tersenyum padanya, dia juga. Dia langsung berlari menyeberang jalan ke arahku. Tiba-tiba kulihat kilasan cahaya dan bunyi melengking, satu detik kemudian, kulihat tubuhnya di sana. Di tengah jalan raya, tergeletak, dan bersimbah darah. Kulihat matanya yang masih berbinar, dan senyumnya yang masih mengembang, sesaat. Aku lemas, lututku goyah dan badanku gemetar. Tidak ada air mata yang terjatuh, aku hanya berlutut, terdiam.
15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku mengenalnya. 15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku bersamanya. 15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku mencintainya. Hanya butuh 1 detik, untuk ditinggalkannya.
Bioskop :3
“gimana dengan pembangunan bioskop yang telah kita rancang itu ?”Ujar pria gendut itu sambil menghirup sebatang cerutunya.“pokoknya beress boss,rumah mewah yang bekas terbakar itu sudah di rapihkan.”Ujar Fred,anak buah Mr.Ted.“pokoknya saya jamin kita akan meraih kesuksesan dari bioskop yang kita bangun ini,hehehehe…”Ujar Mr.Ted sambil menghirup cerutunya.Perlahan – lahan bioskop itu mulai di bangun,dan beberapa bulan kemudian bioskop itu pun berdiri megah di sebuah kota kecil yang di kenal dengan sebutan Mastercitydan bioskop itu pun diberi nama 1939 theater,karena bioskop itu berdiri pada 1 Januari 1939,yang berada di selatan Los Angeles.Semua penduduk di kota itu sangat senang dengan berdirinya bioskop itu.Tapi,lain halnya dengan Clara gadis belia mantan penghuni rumah yang terbakar,yang sebelumnya berdiri di tanah dimana bioskop itu berdiri.SATU TAHUN KEMUDIANSudah satu tahun bioskop itu berdiri,selama satu tahun ini banyak sekali kejadian – kejadian aneh yang terjadi di bioskop itu,misalnya banyak sekali pengunjung atau pegawai yang tewas di bioskop itu secara tidak wajar,dan jasad – jasad mereka pun di temukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan.Satu bulan kemudian,Mr.Ted datang ke bioskop itu,dan saat Mr.Ted sedang sendirian mencuci tangannya di wastafel di toilet,tiba –tiba saja dari belakang munculah seorang pria dengan kondisi tubuh penuh luka dan darah,dan kondisi pakaian yang penuh dengan robek datang menghampiri sambil membawa sebilah kapak.Pria itu langsung memukul Mr.Ted dengan kapaknya hingga Mr.Ted terjatuh,dan Pria it uterus menerus mengkapaki Mr.Ted hingga Mr.Ted tewas dengan kondisi tubuh yang terpotong – potong.Beberapa bulan kemudian bioskop itu pun ditutup karena tidak ada pengunjung dan banyak sekali kasus – kasus yang menimpa perusahaan pengelola bioskop itu.Begitu juga dengan kota Mastercity yang menjadi kota mati,karena banyak penduduknya yang tewas dalam perang dunia dan melakukan imigrasi keluar negeri.TUJUH PULUH TAHUN KEMUDIANSara,John,Martin,Kessie,dan Jeff adalah seorang mahasiswa berasal dari los Angeles yang akan pergi ke kota Mastercity untuk mencari tahu mengenai kota Mastercity,dan rencananya mereka akan bermalam di kota itu.“BREMM…BREMMM….”Sara sedang menyiapkan mobil.“Laptop,kopper – kopper,makanan,minuman ,dan radio semuanya di taruh di sini.”Ujar John sedang menaruh barang – barang keperluan mereka di bagasi belakang.“Come on guys,let’s we go !!”Ujar Jeff yang sudah berada di dalam mobil.Mereka menempuh perjalanan selama 7 jam dari Los Angeles dengan perjalanan darat.Sesampainya di sana langit sudah gelap,sehingga mereka harus mencari tempat istirahat.Saat sedang mencari tempat untuk beristirahat tiba – tiba saja mobil mereka hampir menabrak sebuah tembok besar yang tidak terlihat karena tidak ada lampu satu pun di tembok itu.“Ciiiiiiittttttt…..”Mobil yang mereka tumpangi ngerem mendadak.“Hey….lihat,ada sebuah gedung besar !!”Ujar Jeff yang langsung keluar dari mobil.Satu persatu dari mereka keluar dari mobil,dan melihat gedung itu.“Wow….gedung yang sangat megah.”Gumam Kesie.“ 1939 theater.”Gumam saat melihat sebuah baliho besar yang terpajang didepan gedung itu.“Coba,kita lihat – lihat sekeliling gedung ini dulu.”Ujar Jeff mengajak kawan – kawannya.Setelah berkeliling,mereka pun memutuskan untuk bermalam di bioskop itu,meskipun kondisi bioskop itu sudah rusak.Saat mereka masuk kedalam,terlihat kondisi yang sangat rusak,bau tidak enak, sangat kotor sekali dan sangat gelap.lampu senter mereka nyalakan dan mereka melihat adanya bekas restoran,loket tiket dan studio – studio tempat penayangan film yang jumlahnya ada sepuluh studio.Studio 2 hingga studio 10 semuanya dapat di buka pintunya,kecuali studio 1 dan ruang proyektor studio 1 yang tidak dapat dibuka pintunya.“Apakah bioskop ini tercantum di buku sejarah yang kita bawa ?”Tanya Sara saat sedang berkumpul dan bersantai – santai di sebuah ruangan.“Tetapi,selama kita belajar sejarah kita tidak pernah menemukan sejarah tentang bioskop ini.”Ujar Kessie sambil makan sebungkus potato chips.“Hey…teman !!! aku lihat.”Ujar John yang sedang bersama Jeff mencari tentang bioskop itu.Sara dan Kesie segera menghampiri mereka berdua.“baca ini,ternyata bioskop ini di bangun pada tahun 1939,dan bioskop ini menjadi bioskop paling ternama dan tersukses di jaman itu.Namun,sesuatu yang aneh sering terjadi di bioskop ini yang akhirnya membuat bioskop ini bangkrut dan di tutup untuk selamanya.”Ujar John membaca buku sejarah itu.“Sungguh penuh kemisterian.”Ujar Sara sambil meminum sebotol minuman soda.Malam itu Kesie masuk ke toilet bioskop itu,karena ia ingin mengganti baju.“Klek..”Kesie mengunci pintu toilet.Saat ia sedang ganti baju,tiba – tiba dari balik cermin besar muncul seorang bapak – bapak seperti Mr.Ted yang sedang meraba – raba tubuhnya dari belakang.Kesie langsung memakai pakaiannya kembali dan langsung menjerit saat melihat itu.“Tolong…tolong…!!!”Teriak Kesie sambil berusaha membuka kunci pintu.Kunci pintunya terjatuh,dan hanya bisa teriak minta tolong sambil memukul –mukul pintu.“Aku mendengar suara Kesie berteriak minta tolong di toilet.”Ujar Jeff saat sedang berkumpul dengan teman – temannya.“Ayo,cepat kita harus kesana…!!!”Ujar John yang langsung berlari menuju toilet bersama teman – temannya.Saat mereka sedang sibuk berusaha menyelamatkan Kesie,Clara gadis belia itu hanya bisa melihat mereka sambil duduk di sebuah sofa yang sudah rusak.“Tenang Kesie !! kita sedang berusaha mendobrak pintunya !!!”Teriak Sara dari luar toilet.“1…2…3…BRAKKK.”Pintu berhasil di dobrak saat Jeff ,Jhon ,dan Martin berhasil mendobrak pintu dengan mendorong sebuah kursi panjang.“Sara,aku takut sekai,Sara aku takut sekali.”Ujar Kesie yang langsung memeluk Sara.Sara dan teman – temannya masuk ke dalam toilet itu,di toilet itu mereka tidak menemukan hantu apapun di dalam toilet itu,selain bau bangkai yang sangat menyengat.Karena tidak tahan dengan baunya,mereka pun langsung keluar dari toilet itu.“Kita tidak menemukan apa – apa,di toilet itu.”Ujar Jeff pada Kesie.“Tapi,tadi ada seseorang yang muncul di belakangku dan orang tersebut meraba – raba tubuhku saat aku sedang ganti baju.”Ujar Kesie menjelaskan.“Sudahlah,mungkin itu hanya halusinasimu saja.”Ujar John menepuk pundak Kesie.Beberapa jam kemudian.Saat itu Sara sedang berkeliling di bioskop itu seorang diri hanya ditemani sebuah lampu senter besar yang ia bawa.“Wow…bioskop ini sangat besar dan sangat mewah sekali.”Gumam Sara saat melewati restoran yang ada di bioskop itu.Saat sara sedang berjalan sendirian,tiba – tiba saja ia mendengar seperti seorang wanita sedang memanggil namanya.“Sara…Sara…”Ujar suara misterius itu.Sara pun menengok – nengok ke setiap sudut tempat mencari suara itu.“Kamu di mana ?”Teriak Sara.“Aku disini.”Ujar Clara yang tiba – tiba muncul di depan Sara.“AAAAAAAKKHHHHH…..!!!”Teriak Sara kaget saat melihat Clara.“Jangan takut,aku akan melindungimu.”Ujar Clara menenangkan Sara.Malam itu Sara duduk di sebuah kursi di restoran dengan ditemani Clara.“Kau sungguh – sungguh hantu ??”Tanya Sara penasaran.“Iya,aku sungguh – sungguh hantu,kalau kau tidak percaya sentuh saja tubuhku.”Ujar Clara hantu gadis cantik itu.“Ya,ternyata kau benar – benar hantu.”Ujar Sara sambil menyentuh tangan Clara.“Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu Sara.”Ujar Clara dengan lemah lembut.“Minta tolong apa ??”Tanya Sara penasaran.“Tolong hancurkan gedung bioskop ini.”Ujar Clara meminta tolong pada Sara.“Kenapa gedung ini mesti dihancurkan ???”Tanya Sara lagi.“Ceritanya panjang...”Ujar Clara yang akan menceritakan semua tentang bioskop ini.Waktu itu di tahun 1939 aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah mewah,kami hidup bahagia selalu.Namun Mr.Ted yang menghancurkan semuanya,saat itu Mr.Ted meminta aku dan keluargaku untuk pergi dari rumah itu karena ia akan membangun sebuah bioskop di tanah dimana rumah kami berdiri,tapi berkali – kali aku dan keluargaku menolaknya karena tanah ini milik keluargaku.Pada bulan Juni 1938 Mr.Ted beserta puluhan pengawalnya tiba – tiba saja datang,dan mereka langsung masuk ke dalam rumahku.Malam itu menjadi malam yang begitu kelabu,aku dan keluargaku diikat dan digantung dengan sebuah tali tambang besar,dan mereka juga mengkunci seluruh pegawai di rumahku di sebuah kamar.Saat itu mereka semua menyirami rumah kami dengan ribuan liter minyak tanah,mereka juga melempari ribuan obor kearah rumahku.“Mami…mami…aku tidak mau mati….aku tidak mau mati mami…!!”Ujarku saat berada di dalam rumah yang terbakar itu.Aku melihat ayah dan ibuku sudah tiada,dan tak lama setelah mereka aku menyusul mereka.Namun,Cleo kakakku yang berusia 17 tahun berhasil selamat, karena tali tambang yang dipakai untuk menggantung kakakku terputus karena terbakar.Saat itu kakakku sangat terpukul dan sedih sekali saat melihat aku dan keluargaku sudah tiada.Selain itu Cleo juga berusaha untuk membunuh Mr.Ted.Tak lama kemudian,berdirilah bioskop ini.Mr.Ted dan teman – temannya mengadakan sebuah pesta besar – besaran.Beberapa bulan kemudian saat kakakku Cleo berhasil membunuh Mr.Ted dengan sebilah kapak saat Mr.Ted sedang berada di toilet,meskipun Cleo dalam keadaan luka – luka.Beberapa hari setelah kematian Mr.Ted polisi pun mencari siapa pembunuh Mr.Ted,saat itu kakakku berbulan – bulan menjadi buronan polisi,dan satu bulan kemudian kakakku tertangkap karena polisi menembak kakinya saat ia sedang melarikan diri dari kejaran polisi,dan ia pun dihukum mati.Setelah kakakku meninggal,munculah keanehan – keanehan lain yang terjadi di bioskop ini seperti halnya kejadian yang terjadi di studio satu,malam itu ratusan penonton memadati kursi yang ada di studio satu.Pada saat di pertengahan film ,di ruang proyektor sana Mr.Fred teman Mr.Ted sedang asyik memutarkan film sambil meminum segelas Es Jeruk,saat itu sedang hujan deras Mr.Fred tidak menyadari bahwa ada flapon di ruang proyekto itu yang bocor,saat itu air terus menerus menetes hingga menggenangi saklar tegangan tinggi yang berada di ruang proyektor di studio satu,dan tak lama kemudian terjadilah ledakan besar didalam studio satu,semua orang nampak panik,dan mereka semua tidak dapat menyelamatkan diri karena pintu masuk dan pintu keluar studio satu tiba – tiba saja terkunci sendiri.“Tolong – tolong kami di sini ???”Teriak para penonton yang terjebak di dalam.“Panas…panas sekali tubuhku !!!”Jeritan para penonton terjebak didalam.Dalam kejadian itu Mr.Fred tewas terbakar,begitu juga dengan ratusan penonton yang ada di dalamnya.Saat kejadian itu seluruh pengunjung bioskop itu berhamburan keluar.Dua puluh menit kemudian datanglah para tim penyelamat dan tim pemadam kebakaran,mereka berusaha sekuat tenaga ingin menyelamatkan korban yang berada di dalam,namun nihil hasilnya mereka tidak bisa membuka pintu masuk dan pintu keluar,jangankan membuka menyentuh tembok dan daun pintu studio itu saja rasa panasnya sangat menyengat hingga membuat telapak tangan orang yang menyentuhnya melepuh.Sampai sekarang belum ada orang yang dapat membuka pintu itu,termasuk para tim penyelamat dan tim pemadam kebakaran.Tapi,tujuh puluh tahun telah berlalu kini api yang berada di dalam telah padam dengan tersendirinya.Setelah kejadian itu,bioskop ini kembali memakan korban.Saat itu kondisi toilet cukup ramai sekali,dan saat itu tiba – tiba saja datanglah beberapa bayangan – bayangan menyerupai sesosok manusia,bayangan – bayangan tersebut membunuh semua pengunjung yang sedang berada di dalam toilet,ada yang di bunuh secara dikuliti,ditebas kepalanya,dan dikeluarkan seluruh isi perut mereka.Pembunuhan ini terjadi di dalam toilet wanita dan toilet pria.Beberapa menit setelah terjadi pembunuhan masal di dalam toilet.Datanglah puluhan bayangan – bayangan itu lagi,dan pada saat itu mereka membunuh seluruh pengunjung dan pekerja yang ada di bioskop itu dengan cara yang sangat sadis sekali.Dan setelah terjadi pembunuhan masal di bioskop ini,pihak pengelola bioskop ini sebelum pengelola bioskop ini bangkrut menutup bioskop ini untuk selamanya tanpa mengidentifikasi seluruh korban yang ada disini.Beberapa bulan kemudian seluruh penduduk kota Mastercity melakukan migrasi ke beberapa Negara di seluruh penjuru Dunia.“Clara,apakah kamu tahu siapa bayangan – bayangan yang melakukan pembunuhan masal itu?”Tanya Sara penasaran.“Iya,tentu saja aku tahu,mereka adalah arwah keluargaku yang masih penasaran karena mereka tidak suka dengan berdirinya bioskop ini.”Ujar Clara singkat.“Dan mengapa di bioskop ini seperti tidak terlihat bekas ada pembunuhan ?”Tanya Sara lagi.“Iya,karena matamu dan mata teman – temanmu telah dibutakan saat masuk kedalam bioskop ini.”Ujar Clara.“Apakah aku dapat melihat kondisi yang sesungguhnya ??”Tanya Sara.“Tentu bisa,sekarang pejamkan matamu.”Ujar Clara meminta Sara memejamkan matanya.Clara pun mulai meraba – raba kelopak mata Sara.“Sekarang buka matamu !!”Ujar Clara menyuruh Sara membuka matanya.“Yaa..tuhan ..!!”Ujar Sara sangat terkejut saat melihat kondisi yang sebenarnya.Sara berjalan bersama Clara sambil melihat kondisi yang sebenarnya sangat mengerikan sekali ,banyak sekali mayat yang berserakan tanpa kepala,dan hancur karena dikuliti.Tak lama kemudian sampailah mereka di depan pintu masuk studio satu,dan saat itu Sara mencoba membuka pintu masuk menuju studio satu.Perlahan – lahan Sara mencoba membuka pintu itu.“KLEEK…”Sara membuka pintu.“Sara,kau berhasil kau dapat membuka pintu itu !!”Ujar Clara sangat senang.Sara mencoba mendorong pintu yang cukup berat itu karena ukurannya yang besar.Saat ia masuk Sara melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan sekali,semua yang ada di dalam studio itu hangus terbakar,selain itu Sara mencium bau bekas terbakar yang sangat menyengat sekali di dalam studio.“KLETEK.”Sara menginjak sebuah kerangka manusia saat sedang berjalan.“Inilah pemandangan yang sesungguhnya,Sara.”Ujar Clara dari belakang.“Benar –benar sungguh mengerikan sekali.”Ujar Sara yang tetap serius melihat seluruh isi dalam studio itu.“Jeff,kamu lihat Sara tidak ??”Tanya Kesie sambil membaca buku.“Oh..iya,si Sara kemana yaa ??”Ujar Jeff sambil meminum secangkir kopi panas.“Tadi,katanya sih dia mau jalan – jalan.”Ujar Martin yang sedang tidur – tiduran.“Lebih,baik sekarang kita cari Sara,karena dia belum kembali sampai sekarang ini.”Ujar John mengajak temannya.Pada saat Sara sedang berada di dalam tiba – tiba saja seluruh pintu yang ada di studio satu tertutup dengan sendirinya,saat itu Sara langsung berlari menuju pintu keluar,tapi pintu itu dengan cepat langsung menutup dan mengurung Sara di dalam studio itu.“TOLONG…TOLONG…TOLONG AKU !!!”Teriak Sara dari dalam sambil berusaha membuka pintu.Tiba – tiba saja api yang membakar studio satu kembali menyala,dan seluruh jasad – jasad yang telah mati hidup kembali.Rupanya semua akan terjadi kembali jika ada seseorang yang masuk ke dalam studio itu,dan mereka menginginkan orang yang masuk tersebut menjadi korban seperti mereka.Disaat itu juga,Clara telah berusaha untuk menolong Sara,namun ia tidak bisa karena ia hanyalah hantu.“SARA ….SARA…!!! DIMANA KAMU !!!”Teriak teman – teman Sara berjalan mengelilingi setiap sudut sambil membawa lampu senter.“SARA …!!! DIMANA KAMU !!!”Teriak Kesie sambil berjalan mengelilingi setiap sudut bioskop itu.“TOLONG …TOLONG …TOLONG AKU !!!”Teriak Sara sambil berusaha membuka pintu.Teman – teman Sara mendengar suara jeritan minta tolong Sara,mereka langsung mendekati asal suara itu.Suara itu semakin keras terdengar saat mereka berada di sekitar studio satu.“LIHAT !!! SARA BERADA DIDALAM STUDIO ITU !!!”Ujar Martin menunjukan jarinya kearah studio satu.“TOLONG …TOLONG AKU !!!”Teriak Sara lagi dari dalam.“TENANG SARA,KITA SEDANG BERUSAHA MEMBUKAKAN PINTU !!”Ujar Kesie teriak dari luar.“EEEEEEEEEHHHHHHHHH….”Martin,Jeff,John dan Kesie sekuat tenaga berusaha membukakan pintu.“Oh…sial,pintu ini sulit sekali untuk dibuka !!”Keluh John.Disaat yang bersamaan,Jeff melihat sebuah linggis tergeletak di lantai.Tak segan – segan ia mengambil linggis itu,dan berusaha mencongkel pintu dengan linggis tersebut.Sekuat tenaga Jeff,John dan Martin mencongkel pintu itu.Alhasil mereka pun berhasil membuka pintu itu,dan Sara pun langsung memeluk teman – temannya saat ia berhasil keluar.“HUH…HAH…HUH…HAH…terima kasih teman – teman,aku sayang kalian.”Ujar Sara dengan nafas yang tersendat – sendat.“Apa yang terjadi di dalam,Sara ??”Tanya Jeff ingin tahu.“Di dalam sangat mengerikan sekali.”Ujar Sara rasa ingin menangis jika dia ingat semua kejadian yang ada di dalam studio itu.“Rasanya tidak ada yang mengerikan didalam.”Ujar John sambil melihat kondisi studio dari luar.“Mata kalian dibutakan saat kalian memasuki gedung bioskop ini.”Ujar Clara yang tiba – tiba saja muncul di belakang mereka.“Siapa kamu ???”Tanya Jeff sangat terkejut.“Aku Clara Ambry,aku korban bioskop ini.”Ujar Clara sangat singkat.“Sara,apa kamu kenal dia ?”Tanya John.“Iya,aku kenal dia,dia adalah gadis cantik yang telah menjadi…..”Ujar Sara dengan jawaban masih menggantung.“Menjadi apa ?”Tanya John lagi penasaran.“Menjadi hantu.”Ujar Sara dengan wajah yang sangat pucat pasi.“HANTU ????”Ujar Jeff,Martin,John,dan Kesie berbarengan.“Dan apa maumu disini ??”Tanya John pada Clara dengan tatapan tajam.“Aku hanya ingin minta tolong sama kalian.”Ujar Clara.“Minta tolong apa ?”Tanya Jeff dengan tegas.“Baiklah akan kuceritakan semuanya pada kalian.”Ujar ClaraClara menceritakan kembali mengenai bioskop itu dan semua yang terjadi di bioskop itu.“Begitulah ceritanya.”Ujar Clara bersedih.“Oh…tuhan sungguh mengerikan sekali.”Ujar Kesie menggelengkan kepala.“Apa kalian ingin melihat kondisi yang sebenarnya ?”Ujar Clara.“Boleh dikatakan iya.”Ujar John mewakili semua temannya.“Baik,kalau begitu pejamkan kedua mata kalian !”Perintah Clara.15 detik kemudian.“Bukalah kedua mata kalian.”Perintah Clara lagi.Mereka sangat terkejut sekali saat mereka membuka kedua mata kalian,sungguh keadaan yang sangat berbeda dari yang selama ini mereka lihat.Sungguh keadaan yang sangat – sangat mengerikan,suasana yang gelap,dinding yang berlumut dan berlumuran darah,dan banyak sekali darah yang telah mongering di lantai dan di dinding bioskop itu.Selain itu terdapat bau yang sangat menyengat dan banyak mayat - mayat yang sudah busuk,sudah rusak dan mengenaskan bergelimpangan di seluruh ruang yang ada di bioskop itu.“Oh…tuhan,sungguh benar – benar mengerikan sekali !!”Ujar Jeff sangat terkejut.“Jadi,apakah kalian bersedia menolongku untuk menghacurkan bioskop ini ??”Tanya Clara meminta tolong lagi.“Iya,kita bersedia menolong kamu.”Ujar John mengangguk dan tersenyum.“Kita bersedia menolong kamu.”Ujar Jeff,Kesie ,dan Martin dengan senyuman.Clara sangat senang sekali,bahwa mereka bersedia untuk menolongnya.Begitu juga dengan Sara ,ia terlihat sangat senang.Kebetulan pagi telah datang,dan sangat kebetulan sekali mereka membawa 100 dynamite yang mereka simpan dalam sebuah box besar di dalam mobil.Satu persatu dynamite itu mereka pasang di setiap sudut bioskop itu,dan setelah semua dynamite itu di pasang mereka pun langsung pergi jauh – jauh dari bioskop itu untuk meledak seluruh dynamite.“1….2….3…”John memencet tombol pada remote untuk meledakan dyanamite itu.“BOOOMMMM….”Satu persatu bioskop itu hancur.“1….2….3…”John memencet tombolnya lagi.“BOOOMMMMM…”Seluruh gedung bioskop itu hancur luluh lantah.“YEEEE….KITA BERHASIL !!”Ujar Sara dan teman – temannya dari setelah melihat hancurnya bioskop itu dari sebuah bukit yang cukup tinggi dan jauh dari bioskop itu.“Terima kasih banyak,kalian sudah begitu baik pada kami.”Ujar Clara bersama keluarganya yang tiba – tiba muncul dari belakang mereka.Clara berjalan menghampiri mereka.“Dan sekarang aku akan mengembalikan semua penglihatan kalian.”Ujar Clara tersenyum manis.“Sekarang pejamkan kedua mata kalian !!”Perintah Clara.15 detik kemudian.“Buka kedua mata kalian sekarang.”Perintah Clara dengan lemah lembut.“Clara,kami sangat berterima kasih pada kamu,mungkin jika tidak ada kamu,kami tidak akan pernah mengetahui tentang bioskop itu.”Ujar John mewakili teman – temannya.Clara hanya menjawab dengan senyuman,dan tak lama kemudian Clara kembali pada keluarganya,Clara dan keluarganya memberikan senyuman tanda terima kasih pada mereka hingga akhirnya Clara dan keluarganya pergi terbang dengan tenang ke langit yang biru.Sebelum meninggalkan kota Mastercity,Sara dan teman – temannya mampir kesebuah pemakaman umum.Di pemakaman itu mereka berhenti disebuah makam dengan batu nisan bertuliskan,Clara AmbryBorn May,21 1926Died June,12 1938“Terima kasih Clara,terima kasih untuk semuanya,aku tidak akan pernah melupakanmu Clara.”Ujar Sara meneteskan air mata.Setibanya di Los Angeles,ternyata sudah banyak wartawan yang menantikan kehadiran mereka.Rupanya semua orang telah mengetahui mengenai mereka yang pergi ke kota Mastercity dan berhasil menghancurkan bioskop yang terkenal penuh misteri itu.Selain itu mereka juga mengadakan jumpa pers untuk memberikan keterangan dan menceritakannya pada semua orang mengenai pengalaman mereka,dan mereka juga berhasil lulus ujian skripsi dengan tema skripsi yang mereka ambil dari pengalaman mereka.Selain mengadakan jumpa pers mereka juga diundang di beberapa tv show untuk menceritakan pengalaman mereka,mereka juga sangat bahagia dapat menceritakan pengalamannya pada semua orang.
~
“Anoooo” teriak bu Vivi jengkel. “Maaf bu saya ketiduran!” kataku kaget. “Keluar kamu! Kamu ibu hukum lari 10 kali lapangan upacara!” kata bu Vivi.Bel istirahat pun berbunyi. Hexa berlari menghampiriku, “Kenapa kamu no tadi tidur dikelas?” tanya Hexa. “Nggak apa-apa cuma tadi malem nggak bisa tidur mikirin si Putri!” jawabku malas. “Putri lagi! Putri lagi! Dari kemaren Putri terus! Nggak bosen?” tanya Hexa. “Hmm…” jawabku tak peduli. Aku pun terus berjalan menuju kekantin.Sampai dikantin tak sengaja aku bertemu dengan Putri. Hexa menepuk pundakku, “Ano, Putri sama Dea tu!” kata Hexa. “So?” tanyaku. “katanya kamu tadi malem mikirin dia!”. Tanpa memandangku Putri dan Dea berjalan menuju kelasnya. “Bodoooooohhhhh!!! Ano kamu emang bener-bener bodoh!” makiku dalam hati.Memang aku sama Putri sudah pernah pacaran. Namun, tak lama karena kesalahanku. Karena sebenarnya aku sudah memiliki kekasih. Dan pada saat itu Putri mengatakan kalau ia suka aku. Dan bodohnya aku mau menerimanya. Dan saat Putri tahu yang sesungguhnya, Putri marah besar padaku. Hingga saat ini, Putri belum bisa memaafkanku. Walaupun berulang kali aku telah meminta maaf.“Xa gimana ni aku bingung?” tanyaku pada Hexa. “Ya nggak tahu itu sich urusan kamu aku nggak ikut-ikut!” jawab Hexa santai.Hari-haripun berlalu dan aku masih tetap bingung. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku dalam hati. Dan aku mempunyai sebuah pemikiran. Aku berniat untuk meminta maaf saat hari terakhir pada semester I. Dan hari itu adalah besuk pagi. Aku akan meminta tolong pada temanku Joy.Akhirnya hari yang kutunggu telah tiba. “Ya Tuhan berilah aku kekuatan!” do’aku dalam hati.Sampai di sekolah aku langsung mencari Joy. “Hey Joy gimana bisakan bantuin aku?” tanyaku pada Joy yang sedang asyik mainan HP. “Ya udahlah! Kapan?” tanyanya. “Besok tahun depan kalau kita dah lulus! Ya sekaranglah!” jawabku kesal.Saat pulang sekolah aku dan Joy sudah siap untuk menemui Putri. Putri berusaha menghindar dari kami. “Putri tunggu!” teriakku pada Putri. Putri terus berjalan tanpa memperdulikan kami berdua. Aku mengejarnya, “Put, tunggu” teriakku lagi. Putri tetap tak menghiraukan. Akhirnya aku dapat menarik tangannya.“Ngapain lagi sih kamu? Lepasin aku mau pulang!” kata Putri berusaha menarik tangannya. “Aku nggak akan ngelepasin tangan kamu sebelum kamu maafin aku!” jawabku terus memegangi tangannya. “Lepasin aku mau pulang!” Putri berusaha terus menarik tangannya. “Aku minta maaf! Kalau kamu nggak mau maafin aku, aku akan berlutut disini sampai kamu maafin aku!” kataku. Namun, Putri hanya diam saja. Aku pun langsung berlutut dihadapannya. “Ngapain kamu? Malu tahu nggak!” kata Putri sinis. “Buat apa malu? Aku serius minta maaf!” kataku. “Berdiri aku dah maafin kamu!” kata Putri terlihat tidak ikhlas. “Nggak aku tetep nggak percaya kalau kamu bener-bener maafin aku!” kataku sambil tetap berlutut. Putri terdiam sesaat, “Susah buat maafin kamu!” kata Putri lemah. “Kenapa?” tanyaku. “Karena kesalahan kamu sulit buat dimaafin!” kata Putri dengan mata berkaca-kaca. “Makanya aku mau minta maaf!” kataku meyakinkan Putri. “Maaf” kata Putri meneteskan air mata. Akhirnya aku mengizinkan Putri pulang.Akhirnya akupun tetap tidak maafkan oleh Putri. Namun, aku yakin suatu hari nanti pasti Putri akan memaafkan aku. Walaupun, tak tahu kapan akan terjadi.
:3
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)