Jumat, 03 September 2010
~
“Anoooo” teriak bu Vivi jengkel. “Maaf bu saya ketiduran!” kataku kaget. “Keluar kamu! Kamu ibu hukum lari 10 kali lapangan upacara!” kata bu Vivi.Bel istirahat pun berbunyi. Hexa berlari menghampiriku, “Kenapa kamu no tadi tidur dikelas?” tanya Hexa. “Nggak apa-apa cuma tadi malem nggak bisa tidur mikirin si Putri!” jawabku malas. “Putri lagi! Putri lagi! Dari kemaren Putri terus! Nggak bosen?” tanya Hexa. “Hmm…” jawabku tak peduli. Aku pun terus berjalan menuju kekantin.Sampai dikantin tak sengaja aku bertemu dengan Putri. Hexa menepuk pundakku, “Ano, Putri sama Dea tu!” kata Hexa. “So?” tanyaku. “katanya kamu tadi malem mikirin dia!”. Tanpa memandangku Putri dan Dea berjalan menuju kelasnya. “Bodoooooohhhhh!!! Ano kamu emang bener-bener bodoh!” makiku dalam hati.Memang aku sama Putri sudah pernah pacaran. Namun, tak lama karena kesalahanku. Karena sebenarnya aku sudah memiliki kekasih. Dan pada saat itu Putri mengatakan kalau ia suka aku. Dan bodohnya aku mau menerimanya. Dan saat Putri tahu yang sesungguhnya, Putri marah besar padaku. Hingga saat ini, Putri belum bisa memaafkanku. Walaupun berulang kali aku telah meminta maaf.“Xa gimana ni aku bingung?” tanyaku pada Hexa. “Ya nggak tahu itu sich urusan kamu aku nggak ikut-ikut!” jawab Hexa santai.Hari-haripun berlalu dan aku masih tetap bingung. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku dalam hati. Dan aku mempunyai sebuah pemikiran. Aku berniat untuk meminta maaf saat hari terakhir pada semester I. Dan hari itu adalah besuk pagi. Aku akan meminta tolong pada temanku Joy.Akhirnya hari yang kutunggu telah tiba. “Ya Tuhan berilah aku kekuatan!” do’aku dalam hati.Sampai di sekolah aku langsung mencari Joy. “Hey Joy gimana bisakan bantuin aku?” tanyaku pada Joy yang sedang asyik mainan HP. “Ya udahlah! Kapan?” tanyanya. “Besok tahun depan kalau kita dah lulus! Ya sekaranglah!” jawabku kesal.Saat pulang sekolah aku dan Joy sudah siap untuk menemui Putri. Putri berusaha menghindar dari kami. “Putri tunggu!” teriakku pada Putri. Putri terus berjalan tanpa memperdulikan kami berdua. Aku mengejarnya, “Put, tunggu” teriakku lagi. Putri tetap tak menghiraukan. Akhirnya aku dapat menarik tangannya.“Ngapain lagi sih kamu? Lepasin aku mau pulang!” kata Putri berusaha menarik tangannya. “Aku nggak akan ngelepasin tangan kamu sebelum kamu maafin aku!” jawabku terus memegangi tangannya. “Lepasin aku mau pulang!” Putri berusaha terus menarik tangannya. “Aku minta maaf! Kalau kamu nggak mau maafin aku, aku akan berlutut disini sampai kamu maafin aku!” kataku. Namun, Putri hanya diam saja. Aku pun langsung berlutut dihadapannya. “Ngapain kamu? Malu tahu nggak!” kata Putri sinis. “Buat apa malu? Aku serius minta maaf!” kataku. “Berdiri aku dah maafin kamu!” kata Putri terlihat tidak ikhlas. “Nggak aku tetep nggak percaya kalau kamu bener-bener maafin aku!” kataku sambil tetap berlutut. Putri terdiam sesaat, “Susah buat maafin kamu!” kata Putri lemah. “Kenapa?” tanyaku. “Karena kesalahan kamu sulit buat dimaafin!” kata Putri dengan mata berkaca-kaca. “Makanya aku mau minta maaf!” kataku meyakinkan Putri. “Maaf” kata Putri meneteskan air mata. Akhirnya aku mengizinkan Putri pulang.Akhirnya akupun tetap tidak maafkan oleh Putri. Namun, aku yakin suatu hari nanti pasti Putri akan memaafkan aku. Walaupun, tak tahu kapan akan terjadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar