Jumat, 03 September 2010

1 detik

Sekarang tepat jam delapan malam. Aku masih duduk di atas bangku panjang berwarna coklat tua. Hening sekali tempat ini. Hanya ada aku dan sunyinya malam. Sudah empat puluh menit aku menunggu adik kesayanganku yang tak kunjung datang. Satu jam yang lalu aku menerima pesan dari adikku untuk menunggunya di bangku panjang ini, bangku favorit kami. Sejak kami ditinggal pergi selamanya oleh orangtua kami, akulah yang bekerja demi menghidupi kita berdua, terutama demi adikku tersayang. Adikku 10 tahun lebih muda dari aku. Wajahnya yang tampan dan otaknya yang cerdas sering membuatku iri, dia sering memenangkan berbagai perlombaan sains. Aku yang lebih tua, hanya perlu bekerja demi masa depan adikku. Sekarang sudah 45 menit sejak terakhir kali aku menerima pesan darinya. Aku mulai cemas, ditambah lagi aku sangat lelah karena aku baru saja pulang dari bekerja. Kenapa lama sekali ya ? pikirku. Padahal tempat lesnya tidak jauh dari sini. Huh… lain kali, biar kusuruh dia pulang sendiri. Tak lama kemudian, aku menerima pesan darinya. Hah..., akhirnya ada kabar juga darinya, sebentar lagi dia ke sini, katanya. Aku langsung menengok ke kiri dan ke kanan mencari batang hidungnya, dan kulihat dia, di seberang jalan sana. Aku sangat lega melihatnya, dan aku tersenyum padanya, dia juga. Dia langsung berlari menyeberang jalan ke arahku. Tiba-tiba kulihat kilasan cahaya dan bunyi melengking, satu detik kemudian, kulihat tubuhnya di sana. Di tengah jalan raya, tergeletak, dan bersimbah darah. Kulihat matanya yang masih berbinar, dan senyumnya yang masih mengembang, sesaat. Aku lemas, lututku goyah dan badanku gemetar. Tidak ada air mata yang terjatuh, aku hanya berlutut, terdiam. 15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku mengenalnya. 15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku bersamanya. 15 tahun 4 bulan 23 hari 20 jam 47 menit dan 26 detik aku mencintainya. Hanya butuh 1 detik, untuk ditinggalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar