Jumat, 03 September 2010

Aku dan Sahabat

Setiap pagi,saat aku menunggu angkot untuk berangakat sekolah,aku selalu melihat seorang perempuan berjilbab duduk di dekat pintu bis berwana biru muda yang melewati tempat aku menunggu angkot.Dia adalah sahabatku.Banyak hal yang telah kami lalui bersama. Kami bersahabat dari awal masuk SMP.Walaupun bias dibilang itu belum lama,tetapi kami sudah saling mengenal satu sama lain.Dulu waktu duduk di kelas VII kami satu kelas,bahkan satu bangku.Kami dulu sangat dekat,bahkan kemana-mana selalu bersama. Tetapi,sejak akhir semester 2,kami mulai jauh.Aku kecewa padanya,kami pun berpisah.Hanya karena aku cemburu padanya,dia marah dan itu membuat kami berpisah.dulu aku pernah menangis karena hal itu,tetapi dia malah bilang aku cengeng.Memang aku cengeng,karena hatiku memang lembek dan mudah tersinggung. Sejak itu,kami tak pernah berkomunikasi,bahkan kami tak lagi duduk satu bangku.Bahkan saking kesalnya di,dia pernah mengatakan bahwa dia tak mau satu kelas lagi denganku.Aku kadang berfikir,sebenarnya apa yang membuat kami menjadi seperti ini.Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan kami untuk bersama.Tapi aku juga tak tahu apa yang dia pikirkan,mungkin dia hanya sedang mengungkapkan kekesalannya. Sejak kami berpisah,setiap apa yang dia katakan padaku rasa seperti menusukku,aku juga banyak salah padanya.Kami jadi saling menyakiti. Beberapa minggu setelah liburan kenaikan kelas,hubungan kami membaik,tapi apa yang dia harapkan benar terjadi,kami tak lagi satu kelas.Sejak itu,kami mulai berkomunikasi,walaupun tak sedekat dulu.Kami juga sesekali curhat. Lambat laun aku tak terlalu mengharapkan dia seperti dulu lagi.Aku juga sedang mendekati salah seorang adik kelasku.Aku suka dengan karakternya,siapa tahu dia bisa menggantikan sahabatku yang sudah pergi. Suatu hari,dia memintaku untuk kembali seperti dulu,dia minta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya.Aku bingung harus jawab apa.Aku terlanjur sakit hati,tapi aku masih saying padanya,aku juga banyak salah padanya,tapi aku juga hamper menemukan penggantinya.Ah..Aku bingung,akhirnya aku jawab aku mau,aku juga minta maaf kembali atas kesalahanku padanya. Akhirnya,kami bersatu kembali.Hari-hari yang dulu kami lewati bersama,kini dapat kami ulang.Sungguh indah sebuah persahabatan.Walaupun kami sudah tidak satu kelas,namun kelas kami berdekatan,di pelajaran kosong,kami menyempatkan diri untuk bertemu.Baru satu tahun kami mengecap kembali manisnya persahabatan,kami harus berpisah kembali.Dia harus pergi.Dia mengikuti keluarganya pindah ke Klaten.Kini,setiap bis berwarna biru muda itu lewat,aku tak pernah lagi melihat perempuan berjilbab itu duduk di dekat pintu bis tersebut.Betapa sedihnya kami harus berpisah,padahal belum lama kami mengenal apa itu arti sahabat. “Terima kasih,karena aku bisa belajar arti persahabatan denganmu”.Tapi,kami masih sering curhat lewat sms,telefon,ataupun FB.Inilah takdir persahabatan kami.Dari sini kami belajar,bahwa persahabatan tak mengenal jarak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar