Sabtu, 12 November 2011

Karma

Aku pikir apa yang ku lakukan adalah jalan yang terbaik untuk jalan kemasa depan. Demi ketenaran ku mengorbankan perasaan dan cinta, sungguh ego yang tinggi. Cinta dan kasih sayang telah kukorbakan untuk cita-citaku, untuk menjadi penulis yang terkenal…ku mengorbankan semua orang yang kusayangi termasuk kekasihku yang dahulu sangat mencintaiku, kekasih yang selalu memberi aku kekuatan didalam pekerjaaku untuk menulis, tapi aku mensia-siakan nya. Ketika aku menjalin hubungan dengan dirinya aku pernah berharap untuk berpisah darinya, tapi apa danya dia selalu memberiku kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan terkecuali dari orang tuaku.

Disibuknya ia kerja, ia menyempatkan diri untuk menjengukku, yang jauh dari tempat kerjanya dengan pakaian yang berlumur dengan oli, dengan hati yang tulus ia rela memakai baju yang kumuh untuk berjumpa dengan diriku yang kejam ini, karena ia takut aku pulang sebelum berjupa dengannya.

Ketika itu kusadar bahwa dirinya benar-benar tulus mencintaik. Kerena mulut ini membuat dirinya menjauhi ku.
Aku tak sadar, apa yang kuucapkan kepada dirinya, sehingga aku tak ada berkomunikasi padanya.


Kaerena itu aku membuat niat baru lagi, aku ingin putus darinya, tak lama kemudian niat yang kutanam itu membuat hasil yang sangat keliru, ketika putus bersamanya aku selalu mengharapkannya untuk kembali kepadaku lagi.

Setelah aku tak berhubungan dengannya lagi berniat untuk mencari penggantinya, dengan tujuan, igin memperdalam karyaku lagi, aku ingin karyaku diminati oleh para remaja, demi kesuksesan jalan ceritaku, aku mengorbankan perasaan orang yang telah mencintaiku, aku berpura-pura mencintainya, suatu ketika ia mulai mencurigaiku
“Hampir dua hari ini Shasa berubah, ada apa sebernarnya yang terjadi?” ujar lelaki yang mencintaiku

“Oh itu… nggak ada yang berubah, mungkin perasaan Nal aja” sambil menatapnya aku berkata dalam hati, maaf Sha mendustai Nal, Sha nggak punya rasa ma Nal, demi karya Sha, Sha melakukan ini ma Nal.


“Maaf kalo Nal kayak gitu ma Sha, karena Nal ngerasa kalo Sha cuma mempermaikan Nal, maaf kan Nal ya Sha?” katanya dengan wajah yang merasa bersalah
“Ia Nal, Sha udah maafkan Nal, kalo Nal merasa Sha berubah , Sha minta maaf.
Akhirya kecurigaan Nal bisa kuatasi dengan santai, tanpa menjelaskan dengan panjang lebar.

Karena aku ingin mencari jalan cerita yang baru, aku mulai mencuekin Nal, tanpa kusadari Nal mengetahui kalo aku tidak mencintainya. Aku tak ingin Nal tahu kalo aku menjalin hubungannya semata-mata untuk kepentinganku pribadi.

Tak tarlintas dibenakku kalo Nal menjahuiku karena ia merasa dipermainkan, aku pun merasa bersalah kepada dirinya. ”Nal maafkan Sha moga Nal bisa ngerti. Mudahan-mudahan Nal bisa mendapat yang lebih baik dari Sha .


Tak lama kuputus dengan Nal, aku menjalin hubungan dengan teman. Kufikir dia mencintaiku ternyata ia hanya taruhan. Ketika aku mengetahuai akal busuknya, aku segera mendatanginya dan mengata-ngataiya.

“Apa maksud dari semua ini?” Tanyaku dengan kesal.
“Hei… pernah ngaca nggak? Pa nggak ada kaca di rumah?”
“Kalo nggak ada emang napa? Lo mo beliin gue kaca? Mang lo ada duit, nyadar donk selama lo pacaran ma gue mana pernah lo ngeluarin duit buat gue, sekarang lo mo beliin gue kaca? Ha… mimpi apa gue semalam, asal lo tau ya! Gue nggak bakalan pernah maafin lo, sampai kapan pun.”

“O,yeeee! Tu mau karma bagi lo. Untuk apa ngataiin gue, jika lo samanya brengsek ma gue.

Aku tak menyangka jikalau ini terjadi dengan diriku. Ya Tuhan………….. apa ini yang namaya karma, apa yang kulakukan selama ini, membuatku akan sadar akan perbuatanku yang kejam. Apa yang ku lakukan ternyata sangat menyakitkan, bahkan aku tak sanggup untuk menjalaninya. Dengan hati yang tulus aku minta maaf kepada orang yang pernah kusakiti dahulu.

Rana

Adalah satu hal yang selalu dilakukan Rana setiap sore. Setiap hari selepas berkeliling kota mencari objek foto yang bagus, dia selalu mendaki bukit kecil dibelakang kotanya itu, kemudian duduk di sana melepas penat. Sebelum pulang, ia tak pernah lupa memotret sebatang pohon besar yang menaunginya sepanjang sore. Sekalipun rutinitas itu telah mengakar dalam daripadanya, dan tak satu haripun ia terlupa melakukannya, ia tak tahu nama pohon itu. Tapi tak apa, baginya pesona pohon itu memberikan sesuatu yang berbeda.

Kebanyakan fotografer tidak suka mengambil foto dari objek yang sama terus menerus. Rana berbeda. Pohon itu milik Rana. Beberapa temannya sempat mencoba setelah melihat kumpulan fotonya mengenai pohon itu. Begitu ekspresif. Selalu ada yang berbeda dari setiap foto, semuanya menggambarkan sisi yang lain dari bukit itu. Saying, tak pernah ada yang berhasil. Hanya Rana yang mampu mewujudkan pesona pohon itu kedalam kameranya.

Ia tidak tahu mengapa, namun hal itu tidak membuatnya risau. Baginya, hal itu terjadi karena teman temannya yang lain tidak punya koneksi dengan pohon itu seperti dirinya. Baginya pohon itu lebih dari sekedar satu satunya pohon di bukit. Pohon itu adalah perwujudan dirinya. Tanaman yang tumbuh sendirian tanpa perhatian orang lain,
kokoh walaupun berada di tempat yang tidak dilihat orang. Akarnya saling membelit liar, Rana yatim piatu. Ia menghuni panti asuhan sejak ia bisa mengingat. Kamera bekas sumbangan seseorang adalah pelariannya. Benda itu begitu menakjubkan, mampu mewujudkan kepingan kepingan memorinya dalam gambar. Dia memandang benda itu dengan kagum setiap harinya, dan setiap pulang sekolah selalu melompat keluar jendela untuk mencobanya pada semua hal yang disukainya.

Rana memang agak pemberontak di waktu waktu tertentu. Tapi dia bukanlah berandalan. Baginya, ada desir kecil yang selalu membawanya berpetualang bersama kamera usangnya. Ia berhenti jajan dan menabung uangnya untuk dua atau tiga rol film setiap bulannya.
Sebelum dia sadar, dia sudah menjadikannya mata pencahariannya, sekaligus pelepas gundahnya. Dia memenangkan kontes fotografi junior setelah dimarahi guru matematikanya, dia mendapat pekerjaan sebagai fotografer freelance setelah sang editor Koran melihat foto yang dibuatnya saat ia bolos sekolah. Ia tidak bangga pada pelanggaran pelanggaran yang dibuatnya, tapi ia bangga pada karyanya.

Ia mencintai dunianya, dunia yang dilihat dari celah viewfinder, yang selalu terlihat lebih luas di matanya. Dan itu satu alasan dia lebih menyukai gambar pemandangan disbanding manusia.
Sebagai profesional yang populer, tidak hanya dari kemampuannya namun juga sifatnya, Rana sering diundang ke berbagai tempat di luar negeri, membuat foto untuk iklan pariwisata, pamphlet konservasi alam dan sebagainya. Pekerjaan yang otomatis membawanya ke berbagai tempat indah di bumi, tapi baginya, tempat inilah rumahnya.

Ia masih menyukai rutinitasnya semasa sekolah, sebelum memulai karir profesional. Pohon ini selalu menyambutnya kapanpun Rana kembali. Banyak orang menganggapnya eksentrik. Malahan, ia pernah mendengar bisik bisik iri yang menuduhnya mendapat bakatnya dari si pohon. Ia mendengus dan menahan tawa mendengarkan kisah ini beredar. Begitu syirik! Ia nyaman berada di sana, seolah berada dalam pelukan Bunda Pertiwi, dibelai angin berdesir lembut, keluar dari segala tekanan perkotaan.

Sampai satu hari pemerintah hendak menebang pohon itu dan mengubah bukit itu menjadi kompleks gedung pemerintah. Mendengarnya, ia begitu marah, begitu frustasi.
Orang orang itu, berani mengusik oasenya! Mengubah satu lagi pojok yang tersisa dari bumi jadi gedung gedung kotak kotak yang kasar dan dingin! Mentang mentang lebih berkuasa.
Yang membuatnya sakit hati, tender dimenangkan oleh sebuah grup perusahaan besar, yang terdiri dari petinggi yang solid dan berduit, yang dengan kata lain menghilangkan kemungkinannya menuntut secara hukum.


Yang bisa dibuatnya dalam kapasitas yang dimilikinya adalah membuat foto foto yang dimilikinya menjadi brosur dan selebaran. Cara yang diharapkannya dapat membantu mempertahankan tanah itu. Ketika rakyat mulai berkumandang meminta pemerintah mendukung pelestarian dan buaknnya merusaknya, muncul lagi berita bahwa kompleks itu tak hanya erdiri atas sekedar gedung administrasi, namun juga pusat kesehatan dan fasilitas lain bagi anggotanya, yang jelas, mewah. Rana terbantu, karena dengan itu masyarakat semakin vokal.

sayang, harapan itu gugur pulalah saat para petinggi menampik tuduhan tuduhan rakyat, berkilah dengan alasan aneh seperti bahwa para anggota memerlukan semua itu agar tidak stress. Ingin rasanya Rana masuk dan menampar si petinggi yang diwawancarai. Buat rakyat mana?!

Kunjungannya ke bukit itu menjadi semakin sering dan sering semenjank mencuatnya kasus tersebut, seolah dengan kedatangannya dapat mempertahankan tempat itu sedikit lebih lama. Ia merasa bahwa itu terasa tidak adil. Tempatnya di dunia telah terenggut semenjak ia kecil, ketika ia dibuang dip anti asuhan. Sekarang dia telah mendapat tempat untuk dirinya, mereka seenaknya merebutnya darinya. Dialah yang menemukan tempat itu.
Pohon itu milik Rana. Tiada yang boleh mengambilnya darinya.

Ketika putusan telah ditetapkan dan tanggal pembangunan telah disiapkan,ada satu kejadian di tengah malam berangin yang mengubah semuanya.

Malam itu berbadai. Tidak ada yang berani keluar rumah, bahkan dengan jaket tiga lapis sekalipun. Tiang listrik serasa mau rubuh, begitu juga rumah mereka. Atap nyaris terbang, dan sekali kali terdengar bunyi genting rumah sebelah menghantam rumah lainnya.

Yang keesokan paginya ditemukan Rana adalah akar pohon itu, meranggas dan menghitam. Sekelilingnya hangus dengan mengerikan. Petir telah menyambar dan membumihanguskan bukit itu. Menggundulinya. Ia dapat merasa hatinya tercabik menyaksikan pemandangn tiu.
Kemudian tersiar berita pembangunan tidak jadi dilaksanakan. Kontur tanah itu rusak, ada lubang retakan merekah di tengah bukit dari akar akar pohon tua itu. Tempat yang dulunya indah itu tak lagi cocok jadi tempat rekreasi para pejabat.

Dalam hati ia berpikir, ia lebih senang tempat itu diambil kembali oleh Langit daripada dipakai para pejabat korup sok kuasa yang dibencinya. Biarpun begitu, ia tetap tidak bisa membiarkan bukit itu kehilangan cahayanya.

*****

Bukit itu beralas karpet beludru hijau rerumputan yang halus. Beberapa macam bunga mencuat dari semak semak. Anak anak bermain dengan gembira, mengejar kupu kupu beraneka warna.
Bertahun tahun telah lewat, dan hampir tidak ada lagi yang mengingat kejadian yang menghancurkan bukit itu. Hanya saja, lekat di ingatan mereka seseorang yang mendedikasikan hidupnya pada bukit itu, mengembalikannya pada kejayaan lamanya.
Rana.

Arti Suatu Persahabatan

Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.


Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.


Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.


“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”


Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya )